Skip to content

CYBERSQUATTING dan TYPOSQUATTING

April 3, 2012

Pada saat ini kejahatan serta kecurangan di dunia maya (cybernet) sangat sering terjadi, salah satunya adalah  CYBERSQUATTING dan TYPOSQUATTING. Kecurangan ini dilakukan oleh pihak-pihak yang sebenarnya cerdas melihat situasi serta paham akan meraih keuntungan dengan adanya media internet sebagai tempat promosi bisnis.
 
 Cybersquatting (penyerobotan Domain Name) adalah kejahatan  yang dilakukan dengan cara  mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut dengan harga yang lebih mahal.
Adapun penyerobotan nama domain yaitu dengan mendaftarkan situs dengan memakai nama atau merek orang lain secara tanpa hak sebelum pemilik yang sah mendaftarkan, kemudian berusaha untuk menawarkan situs tersebut kepada orang atau pemilik merek yang bersangkutan dengan harga yang sangat tinggi. (Brian Firtzgerald et.al, 1998, hal.5) Makarim mendefinisikan penyerobotan nama domain adalah tindakan seseorang (yang tidak berhak atau bukan pemilik nama sebenarnya) mendahului mendaftarkan nama-nama yang populer yang diketahuinya dengan tujuan untuk menjual kembali kepada pihak yang berkepentingan atas nama tersebut diatas harga perolehannya.(Edmon Makarim,2001. h.24). Kegiatan ini mirip seperti calo-calo karcis.
 
 Typosquatting adalah kejahatan dengan membuat domain plesetan yaitu domain yang mirip dengan nama domain orang lain. Nama tersebut merupakan nama domain saingan perusahaan.

Bagaimana anda tahu apakah nama domain yang anda inginkan sedang digunakan oleh sebuah cybersquatter? Ikuti langkah-langkah berikut ini.

Periksa salah satu nama domain yang anda inginkan di mesin pencari. Apakah nama domain tersebut membawa Anda ke sebuah website? Jika tidak membawa Anda ke situs web yang berfungsi atau online, melainkan membawa Anda ke sebuah situs yang menyatakan ” this domain name for sale,” atau “under construction,” atau “can’t find server,” ada kemungkinan bahwa nama domain yang kita inginkan sudah di daftarkan oleh pihak yang dengan sengaja mendahului kita untuk tujuan tidak baik (cybersquatting). Tidak adanya situs nyata mungkin menunjukkan bahwa tujuan pemilik membeli nama domain adalah hanya untuk menjualnya kembali kepada Anda dengan harga yang lebih tinggi.

Tentu saja, tidak adanya sebuah situs web belum tentu sebuah cybersquatter. Mungkin juga pemilik nama domain punya rencana untuk memiliki situs web di masa depan.

Jika domain yang anda temukan akan membawa anda ke situs Web yang berfungsi yang terdiri dari iklan untuk produk atau layanan yang berkaitan dengan merek dagang Anda, Anda juga mungkin memiliki kasus cybersquatting. Sebagai contoh, jika perusahaan Anda terkenal menyediakan layanan audio-visual dan website yang baru Anda temukan dikemas dengan iklan untuk layanan perusahaan audio-visual lainnya, kemungkinan sangat kuat bahwa situs tersebut dioperasikan oleh cybersquatter yang memperdagangkan popularitas perusahaan dan keyword Anda dengan cara menjual iklan Google kepada para pesaing Anda.

Jika nama domain akan membawa Anda ke situs Web yang tampak fungsional, isi web memiliki hubungan yang wajar terhadap nama domain, tetapi tidak bersaing dengan produk atau layanan Anda mungkin tidak termasuk pada kasus cybersquatting. Misalnya, jika merek dagang Anda adalah “Vierza” yang berhubungan dengan desain web dan multimedia, dan situs web yang Anda temukan (www.vierza.com) adalah untuk mesin pembersih jalan, Anda tidak memiliki kasus cybersquatting.

Kesimpulannya, yang dimaksud cybersquatting sendiri adalah menggunakan nama domain yang bukan haknya untuk tujuan tidak baik. Penyerobotan nama domain ini baru bisa ditetapkan jika memenuhi kriteria:

1. Nama domain yang didaftarkan identik atau mirip dengan merek dagang (trademark) milik orang lain.
2. Jika pemilik domain tidak punya hak atau kepentingan logis memiliki sebuah nama domain.
3. Nama domain yang didaftarkan digunakan untuk maksud buruk.

Contoh Kasus Cybersquatting & Typosquatting :
Mengingat keberadaan Domain Name secara teknis haruslah unique, dalam prakteknya ternyata banyak pihak yang memperebutkan keberadaan nama domain yang lebih intuitif dengan nama si penggunanya tersebut. Sementara itu, tidak semua pihak dengan sigap dan cepat menyadari dan menanggapi kemajuan teknologi tersebut dengan cara meningkatkan keberadaannya dalam Internet, sehingga sebagian orang mendahului mendaftarkan nama-nama yang diketahuinya telah popular dan menjualnya kembali kepada pihak yang berkepentingan atas nama tersebut dengan harga diatas harga perolehannya, dengan kata lain hal ini adalah tindakan penyerobotan atas domain name (cybersquatting).
Aksi cybersquatting memang begitu mendapatkan perhatian dari perusahaan-perusahaan besar di dunia terutama imbasnya  yang dapat membingungkan para pelanggan mereka dan juga dapat merusak citra mereka jika seandainya ada nama domain yang mirip dengan mereka tapi websitenya berisikan konten berbau pornografi atau digunakan untuk menyebarkan malware.
 
Contoh kasus yang beredar di international adalah kasus Yahoo yang menuntut OnlineNIC atas aksi cybersquatting pada 500 nama domain yang mirip atau dapat membingungkan para penggunanya termasuk yahoozone.com, yahooyahooligans.com dan denverwifesexyahoo.com. 
Carlos Slim, orang terkaya di dunia itu pun kurang sigap dalam mengelola brandingnya di internet, sampai domainnya diserobot orang lain. Beruntung kasusnya bisa digolongkan cybersquat sehingga domain carlosslim.com bisa diambil alih.Madonna juga sempat mengalami kasus yang sama akhirnya kembali bisa mendapatkan madonna.com.
Selain itu, bahkan ada pihak-pihak tertentu yang juga secara tidak etis ingin mengambil keuntungan terhadap Domain Name tsb dengan cara memanfaatkan reputasi atas nama-nama yang sudah popular atau telah bernilai komersial sebelumnya sebagai Domain Name untuk alamat bagi situs (web-sites) yang dikelolanya. Dengan kata lain ia mencoba mencuri pasar yang dimiliki oleh orang lain ataupun membonceng reputasi dari keberadaan nama pihak lain tersebut , atau paling tidak nama yang hampir sama dengan nama yg sudah terkenal tersebut . Sebagai contoh adalah penggunaan nama domain yang tidak jauh berbeda dengan nama pihak lain, misalkan situs cocacola.com dimiliki oleh perusahaan permen yang mempunyai rasa cola yang hampir sama dengan rasa dari soft-drink cocacola tersebut. Ataupun ada pihak ingin yang menggunakan nama dengan jenis ketikan yang tidak jauh berbeda misalkan http://www.coca-cola.com atau http://www.coci-cola.com. Hal ini lebih dikenal dengan istilah typosquatting.
 
Yang Harus Dilakukan Jika Nama Domain Yang Anda Ingin Sudah Diambil Orang :
  1. Sebagai langkah awal, hubungi pendaftar nama domain. Untuk mencari nama dan alamat pemilik nama domain, Anda dapat menggunakan “WHOIS Lookup” di whois.net. Cari tahu apakah ada penjelasan yang masuk akal untuk penggunaan nama domain tersebut, mungkin saja pendaftar bersedia untuk menjual nama domain tersebut dengan harga yang Anda inginkan.
  2. Bayar, jika harga tersebut masuk akal. Kadang-kadang, membayar cybersquatter adalah pilihan terbaik. Mungkin lebih murah dan lebih cepat daripada mengajukan gugatan atau memulai sebuah sidang perkara.
  3. Untuk menghadapi iktikad tidak baik tersebut, untuk sementara ini dan yang umumnya telah dilakukan oleh para pengguna Internet adalah melakukan tindakan prophylactic measures yakni dengan mendaftarkan keberadaan nama perusahaanya ataupun merek dagangnya kedalam semua jenis nama domain yang tersedia. Sayangnya hal ini jelas mengakibatkan pengeluaran yang cukup besar untuk biaya administrasi pendaftaran Nama Domain tersebut.
 
Yang Dapat Anda Lakukan untuk Memerangi Cybersquatter
Berkaitan dengan kasus sengketa Nama Domain sudah mulai merebak di Indonesia, maka berdasarkan kepada uraian tersebut di atas, telah terlihat jelas bahwa perangkat perundang-undangan yang dapat digunakan adalah:
  1. Pasal 72 dan 82 Undang-undang No.14 Tahun 1997 tentang Merek, untuk kasus typosquatting;
  2. Untuk kasus-kasus cybersquatting dengan menggunakan pasal-pasal dalam Kitab Undang-undang Pidana Umum, seperti misalnya pasal 382 bis KUHP tentang Persaingan Curang, pasal 493 KUHP tentang Pelanggaran Keamanan Umum Bagi Orang atau Barang dan Kesehatan Umum, pasal 362 KUHP tentang Pencurian, dan pasal 378 KUHP tentang Penipuan; dan
  3. Pasal 22 dan 60 Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi untuk tindakan domain hijacking.
Sementara itu, untuk menghadapi tindakan cybersquatting di Internet maka Pemerintah Amerika Serikat memandang perlu untuk mengeluarkan ketentuan yang khusus mengatur tentang itu, yakni Anti-Cybersquatting Act yang melindungi kepentingan para pemegang merek atas individu yang beriktikad tidak baik dalam memperoleh domain name tersebut, karena tidak dapat diakomodir oleh Federal Trademark Dilution Act tersebut akibat ruang lingkupnya yang lebih luas.Berikut ini akan dikemukakan peraturan yang berkaitan dengan cybersquatting dan typosquatting di Amerika Serikat. Dalam ACPA (Antycybersquatting Consumer Protection Act) 1999 , 15 USC sec 1125 d.
Ketentuan tersebut menyatakan bahwa seseorang yang tanpa hak atau tidak berkaitan dengan pemilik merek atau pemilik nama terkenal yang dilindungi hukum merek dapat digugat oleh pemilik merek jika :
  • Mendaftarkan, memperjualbelikan atau menggunakan sebagai nama doman;
  • Pada saat melakukan pendaftaran nama domain memakai merek yang sama atau identik atau serupa dengan merek tersebut ;
  • Pada saat melakukan pendaftaran memakai merek terkenal yang sama atau serupa dengan merek terkenal sehingga dapat membingungkan.

Seorang korban cybersquatting di Amerika Serikat ( Indonesia ???? ) memiliki dua pilihan:

  1. Menggunakan sistem Internet Corporation of Assigned Names and Numbers (ICANN), atau
  2. Menuntut di bawah ketentuan Anticybersquatting Consumer Protection Act (ACPA).

Sistem ICANN lebih cepat dan lebih murah dibandingkan menggugat dibawah ACPA, dan prosedur tidak memerlukan pengacara.

1. Menggunakan Prosedur ICANN :

Pada tahun 1999, ICANN mulai menerapkan Uniform Domain Name Dispute Resolution Policy (UDNDRP), sebuah kebijakan untuk penyelesaian sengketa nama domain. Alasan yang dapat digunakan untuk mengajukan gugatan menggunakan prosedur ICANN :

  • Nama domain adalah identik atau mirip dengan merek dagang atau merek jasa yang dimiliki penggugat.
  • Pemilik nama domain tidak memiliki hak atau kepentingan yang sah atas nama domain, dan
  • Nama domain telah didaftarkan oleh orang lain dan digunakan dalam hal yang tidak baik

Jika gugatan diterima, maka nama domain akan dibatalkan atau dialihkan kepada penggugat.

2. Menggunakan Prosedur ACPA :

Anticybersquatting Consumer Protection Act (ACPA) memberi hak untuk pemilik merek dagang untuk menuntut sebuah cybersquatter di pengadilan federal dan mentransfer nama domain kembali ke pemilik merek dagang. Dalam beberapa kasus, cybersquatter harus membayar ganti rugi uang.

Untuk menghentikan cybersquatter, pemilik merek dagang harus membuktikan semua hal berikut:

  • Para pendaftar nama domain memiliki niat buruk dan mengambil keuntungan dari merek dagang orang lain
  • Merek dagang sudah ada pada saat nama domain pertama kali didaftarkan
  • Nama domain adalah identik, membingungkan atau mirip dengan merek dagang tersebut, dan
  • Merek dagang tersebut memenuhi syarat dan memiliki badan hukum atau hak patent – dan pemiliknya adalah orang pertama yang menggunakan merek tersebut dalam perdagangan.

Jika cybersquatter bisa menunjukkan bahwa ia punya alasan untuk mendaftarkan nama domain bukan untuk menjualnya kembali ke pemilik merek dagang untuk mendapat keuntungan, maka pengadilan mungkin akan mengizinkan dia untuk memiliki nama domain tersebut.

Saran saya buruan beli domain sesuai merek dagang atau nama anda, Karena dalam urusan domain berlaku hukum “siapa cepat dia dapat”. Dia yang pertama kali mendaftarkan, dia berhak menggunakan. Dan tidak ada nama domain yang sama persis di dunia ini.

 

sumber :

http://viean-cybersquatting.blogspot.com/

http://www.erisatria.com/newbie-tips/336-apa-itu-cybersquatting-

 

From → EP-TSI

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: